PIRATES OF HEAVEN – Merangkak Rangkak di Kepulauan CEPEK-[deh]


PIRATES OF HEAVEN

~Chapter One~ by Away

KAMI ADALAH BAJAK LAUT YANG AKAN MENJARAH SURGA!! Itulah yang terbayang pada malam hari menjelang pagi saat saya, Alcapone, Dae, dan Nikolaus menjamah kedai pecel ayam berlabel “Pak Kumis” di seberang PGC sebelum keberangkatan kita untuk sebuah perjalanan yang sudah direncanakan kurang lebih 3 bulan lamanya. Hari ini adalah harinya…

Jum’at pagi 4 Maret 2011Saya masih terlelap menunggu Ado dan Ugi yang biasanya langsung mengoyak saya dari tempat tidur, tapi ternyata bukan mereka yang membangunkan saya hari itu, melainkan suara Okem yang tiba-tiba mengaung di sisi tempat tidur saya..Sambil menyanyikan lagu “Mengheningkan Cipta” dengan semangatnya diapun menarik-narik kaki saya. Entah apa yang ada dipikirannya, yang jelas saat ini masih menjadi misteri: kenapa dia menyanyikan lagu “Mengheningkan cipta” untuk membangunkan saya?! Seolah itulah lagu perjuangan satu-satunya yang dia hafal, dan dipakai sebagai penyemangat, karena namanya “lagu perjuangan”..untung bukan lagu ‘gugur bunga”. Okem pun berlalu karena misi dia pagi itu hanya mengambil sepatu skate nyaa yang tertinggal di kamar saya.

“”Sampe ketemu di Angke”

Itulah kata terakhir dia sebelum hilang ditelan pintu kamar.

Halte Busway PGC~Nadia-lah yang pertama kali muncul dan menelpon semua untuk segera datang. Saya pun nongol setelah menyelesaikan urusan saya dengan kacamata cengdem (goceng adem) yang sebenarnya berharga 30 ribu rupiah, Niko pun muncul sambil mengenakan jam tangan barunya seharga sama dengan kacamata saya yang dibeli pagi itu juga di mall itu juga, Saat semua lengkap,dengan mantap kami melangkah menuju Busway ke arah grogol. Tak lama kemudian di pojok bus gandeng tersebut terukirlah wajah pucat pasi yang kebetulan dipanggil Riskan, dan setiap shelter di terus bertanya: “masih berapa halte lagi?”. Pertanyaan penuh harapan: mudah- mudahan tidak mengeluarkan isi perut di dalam bus ini.“TKI lu yang di Libya apa kabar man?”

Pertanyaan spontan untuk mencari bahan obrolan setelah seorang bapak meninggalkan tempat duduknya dan digantikan oleh saya tepat disamping Eman yang kebetulan berprofesi sebagai penyalur TKI, kalau kata anak-anak: Human traffic.ahahaaa

“Udah balik semua way”

“Syukur dahh, emang ada berapa unit?”

Yah, ada lah 200-an, mereka sampai ga makan 2 hari”

“gile, banyak amat.. pas balik jadi 500 ya?? Kan disana pada beranak”

“emang gua ternak orang?!”

Obrolan sampah itu pun mengantarkan kami sampai ujung shelter tempat dimana kami ber-17 harus turun. Di jembatan penyeberangan kami pun dihadapkan pada pemandangan yang seolah ingin menyampaikan pesan: bahwa Jakarta memang keras..(silahkan buka sukatoro.com) dan itulah yang terjadi di pinggir kali sisi jalan utama, Hajat pun berlangsung dengan meriahnya. Kami pun masuk kedalam dua buah angkot yang memang sengaja dicarter untuk mengantar kami ber-17 ke Muara angke.

Muara angke~ Jam menunjukkan pukul 11 saat kami menapakkan kaki di tempat kumuh tersebut, dan yang lebih parah lagi kami disambut pemandangan yang sama sekali kumuh, yaitu seekor Okemamus palakuda..tunggu dulu..ada yang lebih bikin anak-anak yang lain sakit hati, disisinya bertengger dara cantik yang sangat asing bagi kita dan dunia serasa menunjukkan kekuatannya: bahwa dia memang bisa berlaku semaunya..bahkan untuk keadilan!! Itulah Lita, sosok yang dibicarakan Okem seminggu terakhir ini.

“Kapal jalan jam berapa bang??”

“Jam setegah dua-an lah”

“Kalo mau solat Jumat dulu sempet??”

“Sempet, solat aja dulu..”

Agoy a.k.a Alcapone pun mengumumkan kepada yang lain:

“Yang mau solat, solat aja dulu gih..”

Lalu, dengan grabak-grubuk Ado datang dan menanyakan sarung yang kebetulan memang berada di dalam tas saya:

“Way sarung mana??”

“Noh di tas”

Disusul dengan celetukan sampah dari Dae:

“Sarung gua mana??”

“Emang lu mau ngapain dae?”

Dengan isengnya saya merespon, karena saya merasa jawabannya akan sangat tidak lazim, dan karena terakhir yang saya tahu dia menyembah Poster Spiderman.

“Mau makan”

Jawab Dae seenaknya, dan diapun berlalu diiringi senyum iblisnya

“Hah!”

Tak berapa lama kamipun mencari makan siang yang kebetulan banyak terdapat di pinggir pelabuhan. Setelah makan, tiba-tiba Dae dan Riskan yang memang berpisah dengan rombongan kami datang dengan semangkuk mie ayam yang belum terjamah, saya dan yang lain pun heran, kenapa tiba-tiba dia menawarkan mie ayam?? Riskan yang seolah bisa membaca pikiran langsung mengeluarkan jawabannya “parah banget si Dae, dia kan ga suka caos (saos) ehh, ama abangnya dibikinin pake caoss, langsung si Dae bilang: kan gua ga pake caoss..ahh..udah bikinin lagi!,udah ngomongnya kaya ngajak berantem lagih, gatau apa orang sini keker-keker (baca: berbadan besar layaknya Ade Rai)” seketika itu juga pertanyaan saya sirna digantikan dengan penyesalan karena saya yang sudah kenyang dengan nasi (labelnya si Nasi padang) lengkap dengan ikan goreng tanpa rasa,sedangkan sempat terlintas dalam pikiran saya tadi untuk makan mie ayam, dan nasib mie ayam tersebut putus ditangan Ugi dan Niko. (saya rasa disinilah awalnya..hihihi)

Kapal penyeberangan~ sedikit hujan dan sapaan ramah dari ibu-ibu yang bercerita tentang sejarah pulau Panggang yang kebetulan searah dengan pulau tujuan kami mengiringi awal perjalanan.

“Ibu emang tinggal dimana??”

Pertanyaan basa-basi sekedar untuk pembuka obrolan., yang sebetulnya ada sedikit penyesalan karena menanyankan hal tersebut.

“tinggal di Panggang”

Jiwa seni saya yang tak terbendung lagi tiba-tiba bergejolak dan keluarlah pernyataan:

“Udah dibumbuin dong..tinggal di panggang”

Tawa pun meledak diantara kami dan sang ibu tidak  perduli sambil terus membetulkan life jacket yang disulap menjadi bantal untuk tidur-tiduran sepanjang perjalanan.

Ditengah perjalanan Ponsel Jelita yang bermerk 2b pun berbunyi, sialnya ponsel tersebut sedang berada di tangan yang salah, Matius (adik kandung dari Okemamus), karena sang empunya sedang menikmati angin laut di geladak kapal.

“Halo..Halo..Halo”dengan kedua tangannya memegang ponsel tersebut (kalo ga percaya ada fotonya tuh..)

Awalnya kami memang tidak perduli, tapi karena Matius terus menjawab dengan semangatnya, perhatian kami pun tersita.

“Halo..Orangnya lagi keluar..” layaknya menjawab telfon rumah, sang Matiuspun terus menjawab..

Kami pun saling pandang dan mencoba mencerna kejadian tersebut, “ckckckc..kasihan nasib orang yang menelpon barusan” pikir kami.

Selang berapa lama, Okem mencoba menginterograsi Matius:

“Lu tadi ngangkat telpon ya?!”

“Enggak”

“Lu tadi ngangkat telpon ya?!”

“enggak”

Okem pun geram menyebabkan nadanya sedikit naik:

“Lu tadi ngangkat telpon ya?!”

“sekali doaaaang..”

Swirrrrrrrrrrrrrrrrrrr…………

 

 

*I hear Jerusalem bells are ringing

Roman Cavalry choirs are singing

Be my mirror my sword and shield

My missionaries in a foreign field

For some reason I can’t explain

Once you go there was never, never an honest word

That was when I ruled the world

(Ohhh)

lagu Coldplay  (Viva La VIda) pun mengalun dari bibir kami sekalian dengan khidmatnya..mengiringi KM Kharisma yang kami tumpangi membelah selat jawa.

 

 

Setelah 3 jam lamanya diselingi dengan obrolan sampah dan foto-foto narsis sampailah kami di pulau tujuan yaitu PRAMUKA CYBER ISLAND, setidaknya itulah yang tertulis di dermaga dengan di bingkai logo DKI Jakarta dan Telkom.

Nb:Hanya karena di pulau tersebut sudah ada Internetnya yang para usernya tidak lupa memakai sandal giar gak kesetrum, semena-mena pulau itu disebut pulau Cyber?! (saya masih berfikiran bahwa itu adalah pulau dimana Cybertron berasal..)

 

 

Pulau Pramuka, sore hari.~ sesampainya kami di penginapan tak lupa ritual teriak-teriak tidak karuan seolah kami berada di tengah gunung dimana tak akan ada  orang yang mendengar perilaku Hewani kami

“NURDIN B*NGS*T!!!”

“BEDEBAH KAU KARTOO!!” (gaya film Suzzana)

“KUTUNGGU KAU DI BUKIT TENGKORRAGGHH!!’ (masih bergaya film Suzzana)

Lalu muncul Niko yang tiba-tiba berlari ke dalam dimana saya, Aris, dan Dae sedang berteriak sahut-sahutan.

“WOI, PARAH LO! barusan ada bapak-bapak nongol dari gang sebelah sambil ngedumel gak karuan, abis itu dia balik lagi masuk gang trus teriak AN**NG!”

Astagaaa, pikirku. Belum ada setengah jam sudah bikin onar, dua hari kedepan akan sangat porak poranda..

Sunset pun tak memamerkan indahnya sore itu, maka kami memutuskan untuk sekedar bersantai di penginapan melepas lelah. Tak lupa kami mempersiapkan alat-alat yang akan dipakai untuk esok hari. Yeaaahh, kami akan mengitari pulau-pulau sekitar diakhiri dengan kegiatan snorkling.

Malam pertama di penginapan~ benar-benar malam yang kacau dan penuh. Pukul 10 setelah semuanya selesai dengan makan malam yang memang sengaja tidak disiapkan agar semuanya dapat memilih sendiri makan malamnya. Aris dan Dae pun bercerita pengalaman yang baru saja mereka alami yaitu pada saat mereka dan yang lainnya mengembara mencari makan malam.

Di suatu gang mereka berjalan bersama dan kelihatannya memang menghalangi atau paling tidak mengganggu apabila ada orang lain yang ingin lewat. Saat itulah sesosok ibu-ibu membawa dagangan dengan sepeda berseru:

“Misi-misiii.. Airwolf mau lewat!!”

Spontan mereka pun tertawa tergulinggulingmentalsanasinisampehaustrusminumaerlautlangsungberakkagakcebok  karena kata Airwolf yang diluncurkan oleh ibu tadi terasa sangat gaib, getaran mistispun langsung terasa dimana-mana. Zaman sekarang di sebuah pulau kecil masih, ada saja yang mengenal Airwolf, seorang ibu-ibu pula. Film zaman bapak kita masih main PS di rental dan kita masih main bijikaret itu memang sempat spektakuler. Sebuah Helikopter hitam yang keluar dari gunung berapi memang digandrungi oleh anak-anak dikala itu,, sayapun sempat punya mainan replikanya. Yang saya protes adalah: bagaimana mungkin sebuah sepeda yang dipakai ibu-ibu berdagang dinamakan Airwolf..WHY???NOT FAIR!!!!!!!

Kami pun berkumpul di teras penginapan dan menyiapkan Shisha untuk dinyalakan dan dinikmati bersama. Sebenarnya kami berencana untuk menikmati malam pertama ini di dermaga tak terpakai yang memang kami lakukan pada kunjungan sebelumnya, disana kami biasa menatap bintang dan menikmati renyahnya suara ombak dibumbui oleh angin laut malam yang berdesir lembut, tapi tidak malam ini. Cuaca yang mendung disertai oleh angin yang gahar mengilhami kami untuk terus berada di teras penginapan dan menikmati laut yang kebetulan memang terhampar langsung di depan penginapan kami.Tak lupa ditemani oleh Bolu buatan bapak Eding yang dibuat dengan menuntut patungan telur dan terigu terlebih dahulu, tapi akhirnya karena dia adalah orang yang cukup mapan, maka bolu itu pun tercipta atas dana swadaya Eding sendiri, dan jujur, Bolunya lezat!

 

 

*Benakku melayang pada kisah kita

Terlalu manis untuk dilupakan

Kenangan yang indah bersamamu tinggalah mimpi

Terlalu manis untuk dilupakan

Kalau memang kita tak saling cinta ..takkan terjadi ..diantara kita

lagu wajib “Tongkrongan” dimanapun mengalun dengan lancarnya diantara kami..

 

 

Arang pertama dan kedua, disusul oleh arang ketiga sudah terbakar. Malam itu, saya, Agoy, Ado, Petok, Dodi, Thamrin, dan May adalah predator Sisha beraroma apel-mint, yang lain hanya mencicipi sekelebatan termasuk para wanita, Ugi, Nadia, dan Lita yang masuk kamar setelah udara makin dingin disertai bulir-bulir air hujan yang mulai turun dari langit. Walaupun sedang tidaka berada di Dermaga, kami  merasakan suasana yang sangat lain saat itu, kehangatan dan celotehan gila yang keluar dari mulut kami mengalir dengan sederhana namun indah, diselingi dengan suara tawa lepas karena berada jauh dari rumah dan segala masalah yang kami tinggalkan di Muara angke tadi siang, ditambah lagi dengan aroma Sisha yang mahligai, sungguh membuat kami terbang diantara lautan, dan sesekali memercikkan air dengan ujung jari kami. Sedangkan diluar, tak terasa sudah hujan badai disertai angin kencang yang awalnya kami tidak perdulikan mulai mengusik-usik dan mendesak kami mundur hingga masuk ke garis pintu. Satu-persatu dari kami pun tumbang, hawa diluar mungkin salah satu pemicunya, selain memang kami harus bangun pagi-pagi untuk bersiap, tinggalah saya dan Dae yang kebetulan baru bangun dari tidurnya karena dia memang tidak suka Sisha dan memutuskan untuk separatis lalu mendiami tempat tidur lebih awal.

 

 

Menjelang pagi~ Sayapun sebenarnya berniat untuk tidur kalau saja Dae tidak muncul dan menemani saya bernyanyi diiringi gitar tua hasil jarahan dari TK tempat kami nongkrong dulu yang sejatinya digunakan oleh para guru untuk mengajarkan tentang seni musik, tapi apalah daya, gitar itu lebih berguna bersama kami, dia selalu ikut kemanapun kami pergi menggila. Selain itu alasan saya masih bertahan adalah karena bara Sisha yang memang masih bisa dihisap dan terus dihisap dengan khusuk oleh Wikipetok yang kelihatan senang sekali dengan Sisha itu walaupun sangat jelas terlihat bahwa itu adalah pengalaman pertamanya. Akhirnya bara itu habis dan padam, dan akhirnya Wikipetok pun takluk di tangan dingin ubin penginapan, sedangkan saya, saya masih asik berkelakar dengan Dae dan Eding yang sudah mulai bergerak pindah alam. Dan apa yang membuat obrolan malam itu panjang??

Adalah Herdi, sesosok makhluk tak bertulang belakang bernama latin echinodermata yang menjadi topik panas malam itu. Teman (atau lebih tepatnya mantan teman karena kepergiannya yang fenomenal) itulah yang menuntut saya dan Dae unttuk terus membicarakan kebodohannya, dan kebetuln sedang tidak ikut karena harus mengemban tugas Negara, kalo kata dia mah “lebih baik gagal tugas daripada pulang nama” (kebalik!!!)

“Di Sedap Dii..”

Dae berkata pada suatu malam yang bodoh di sebuah kontrakan mistis tepat kami biasa berkumpul. Lalu Herdi pun menjawab:

“ahh lu mah, guaa mulu”

Didorongkan oleh rasa lapar dan didorongkan oleh keinginan luhur Herdi pun langsung menyalakan dengan susah payah kompor minyak yang disiapkan untuk menyeduh mie instan. Setelah beberapa lama diapun menagih Dae mie Sedap yang dikira akan mengenyangkan perutnya.

“mana Dae mie-nya, aer-nya udah mendidih nih”

Memang sangat terlihat jelas mental prajuritnya, tanpa menanyakan apa-apa lagi Herdi langsung menyiapkan segala sesuatunya. Dengan entengnya Day berbunyi:

“Mie apaan?? Kan gua bilang Sedap, noh diatas kulkas,ahahahaa”

Sedap yang dimaksud adalah sesachet besar KECAP yang berdiri dengan manisnya diatas kulkas dibalut kemasan gambar seorang ibu muda yang cantik dan tulisan Sedaaapp sebagai merk-nya. Sedangkan yang lain memperhatikan sambil curiga otak mereka berdua tertelan saking laparnya. Itulah salah  satu dari 1001 kebodohan Herdi yang menjadi Legend diantara “Brenksex city”. Mungkin saya akan menulis satu buku khusus yang membahas tentang dia suatu hari nanti, dan berharap untuk mem-film-kannya juga, tak lupa dibuat tugunya di daerah Ciketing udig.

Selain topik Unbelieveable-man tersebut terselip juga nama-nama lainnya yang tentu saja yang dibicarakan adalah kebodohannya, seperti bagaimana Amo di suatu liburan di sebuah Villa membuat sambal yang sangat merusak citra orang Minang yang seharusnya pandai kuliner malah membuat lidah  ingin masuk kedalam kerongkongan karena merasa sangat minder dan tidak berguna dan seolah berkata “ ya ampuun, saya diciptakan untuk merasa, tapi ini..sambal ini tak terasa apa-apa, inikah akhir dari dunia karena saya sudah tidak bisa merasakan lagi..ohhh, semuanya gelap.oh..saya melihat cahaya putih..”. Atau topik tentang Agoy yang kalau sudah dateng ribetnya serasa ngurusin 12 negara sekaligus, urat dikeningnya yang bercabang 2 tiba-tiba menjadi 12 cabang apabila sesuatu yang tidak sesuai rencana terjadi, seperti tokoh Naruto yang bisa berubah menjadi Rubah dengan ekor bercabang kalau sedang marah, dan masih banyak lagi.

“Dae, rokok terakhir nih, abis ini kita bubaran ya..”

Rasa lelah yang memaksa saya berkata begitu, dan merebahkan diri pada sebuah kursi panjang dari bambu,  Dae pun tak menjawab, malah dia terus mencoba membuka topik baru yang malah membuat saya semangat dan tertawa karena kepala saya yang sudah terasa pusing keliyengan.

 

 

“WOIII!!!! BERISIKKK!!!’

Tiba-tiba dari ruang tengah diantara tubuh-tubuh tak bergerak yang terbaring di depan televisi, bangkit sosok besar dan hitam legam karena memang pencahayaan yang kurang baik. Kami berdua pun bingung, sedangkan jam berkata ini sudah pukul setengah dua.

Ternyata onggokan hidup  itu adalah Riskan yang sedari tadi memang merasa terganggu dengan celoteh dan tawa kami berdua yang walupun hanya berdua tetapi terdengar seperti satu kelurahan Kronjo sedang nonton bola di kantor Kadus (Kepala Dusun). Lalu diapun berjalan ke arah kami, mengambil sebatang rokok, lalu bergabung bersama kami.

“Ya ampuun”, kataku..

“tadi kan udah mau tidur, pake segala dateng nih babi darat yang doyan mabok kendaraan”.

 

 

Setelah obrolan tidak penting yang juga sesekali ditimpali oleh Eding setengah mateng, setengahnya lagi sadar, kami berempat pun memutuskan untuk lapar bersama. Berangkat dari itulah Dae yang memang menyiapkan banyak makanan sachetan bergegas menyalakan kompor Hi-cook untuk menyeduh sup bermerk Indofood rasa kari ayam (sebetulnya saya lupa merk-nya, karena memang saat itu sudah setengah sadar).

Setelah matang kamipun menyantap sup itu dengan biadabnya, tanpa pikir panjang-pendek kami langsung melahap sup itu dari panci rebusnya. Slurrrrrpppmuachhh.. Ditangan sayalah sup berakhir setelah beberapa kali berputar dari mulut ke mulut. Entah apa yang merasuki saya, saat saya menghabiskan tetes terakhir dari sup itu seperti orang Yahudi yang meminum khamr-nya langsung dari kendi, sayapun spontan meletakkan panci sup tersebut diatas kepala sebagai topi sehingga menutupi wajah sampai ke mulut, alhasil..rambut saya lengket oleh sisa-sisa sup tersebut, kalo anda bertanya apa yang saya pikirkan saat itu, saya akan menjawab: “Come on,. gua cumang mau nikmatin malem, gak ada yang perlu dipikirin, toh sampai sekarang hal itu masih dianggap lucu”(sambil melet-melet membersihkan sisa sup dari pinggiran bibir), walaupun sebenarnya sampai saat inipun saya masih jijik membayangkan hal itu, tapi siapa perduli??

Tutup panci-pun tak luput dari perhatian saya. Saya menjadikan tutup panci tersebut sebagai Cymbal drum yang akan berbunyi saat ada sesuatu yang lucu, seperti di club-club lawak yang akan memukul dua kali snare drumnya diikuti oleh bunyi cymbal apabila ada celetukan lucu khas Srimulat. “Taktak! Duss!!”.

 

 

Sesaat saya berfikir..”Terbukti!! didukung oleh tingkah laku kami, bahwa kami bukanlah makhluk bumi..kamilah yang membuat Crop-circle berbentuk Mengkudu dan Kondom di daerah Slengan”( kalau memang ada). Selang beberapa lama sayapun kalah oleh rasa kantuk yang dibantu oleh pasukan perut kenyang dari kerajaan Sup Indofood. Pukul setengah empat pagi sayapun rebah dipangkuan kursi bambu…

Review perjalanan kami ke Pulau 1000 kemarin, apabila belum di-tag silahkan tag sendiri,.apabila tidak suka, silahkan remove-tag..yang kesel karena batal ikut, silahkan ngirii..ciaooo..sampe ketemu di Chapter 2
PIRATES OF HEAVEN – Merangkak Rangkak di Kepulauan CEPEK-[deh]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s