Aturan Etika Mendaki Gunung Gede


image

Yup, gunung gede pangrango yang terkenal karena pemandangan yang indah dan dikenal cukup merepotkan untuk mendakinya, bagaimana tidak, dahulu tahun 2007 saya mendaki cukup mudah, cukup datang pada pos pos pendakian seperti di pos pendakian Cibodas dan pos pendakian Putri, dan saya diperkenankan naik ke puncak gunung gede hanya dengan membayar 7 ribu rupiah.
Sekarang untuk mendaki gunung gede pun, harus melalui sistem online pada http://booking.gedepangrango.org , itupun dibatasi, dan selalu penuh untuk 1 bulan kedepan, haha. Rempong memang buat para petualang, sehingga gak salah memang jika kata ‘petualang’ menjadi kata ‘berencana’ digunung gede ini. Haha. Belomlagi biaya retribusi yang mencapai Rp.27.500, Mahal memang. Namun kita juga harus memaklumi, dikarenakan

alasan dibawah.
Kini mendaki gunung gede tidak semudah seperti dulu. Memang harus dimengerti, semenjak meledaknya film 5cm, gunung gede yang bisa dibilang gunung terdekat dijakarta mengalami lunjakan pengunjung dipuncaknya. Yups, dalam sehari dikala weekend puncak gunung gede bisa didatangi ribuan pengunjung. Bayangkan, dulu para adventure yang mendatangi puncak puncak gunung untuk memenuhi hasrat petualang, mengejar kesunyian, dan menikmati keindahan alam, pasti terganggu juga dengan keberadaan pengunjung sebanyak itu.
Ironi, itu yang saya dapatkan saat ini ketika mendatangi gunung gede. Disatu sisi saya bangga dikarenakan wisata indonesia yang semakin terkenal, dilain sisi saya sedih (baca sampai selesai supaya anda tau kesedihan saya). Memang para adventure sejati tau mengenai alam, dan tau cara menghargai keberadaan alam.
Namun bagaimana dengan anak anak ‘yang suka selfi doank’? Keren memang didunia maya mengunggah foto kita bersanding dengan alam, apa lagi mengungkapkan kebanggaan ‘Inil hooo Gua Sanggup sampai dipuncak gunung gede’. #huft.
Payah, puncak doank aja bangga, tapi bagaimana lagi ya. Memang itu doank yang mereka kejar. Haha. Saya tau, bagi para adventure sejati ‘Puncak itu Bonus’. Karena kenikmatan ada didalam prosesnya. #bagi yang tidak setuju silakan hujat saja saya dikomentar. Mengapa saya katakakan demikian, Mungkin kita harus perihatin, tidak usah mengklaim bahwa penulis sombong, namun gambar dibawah bisa bercerita sendiri.

image

Surya Kencana, atau lebih dikenal SURKEN, pemandangan yang tak lazim ini yang bisa kita tengok di SURKEN saat ini (4 April 2015). (#Man otak loe dimanaaa). Maaf kelewatan, penulis terganggu dengan gambar barusan, kalau ada pembaca yang pernah kilaf, bisa memberikan komentar dibawah. #semogatuhanmemaafkan.

Kembali lagi ‘Ribet memang mendaki gunung gede’. Namun saya tau fungsi dari keribetan itu, dimulai dari para Ranger yang siap selalu menolong para pendaki (darimana mereka hidup kalau bukan dari biaya retribusi #mikir), hingga penjaagan kelestarian lingkungan, dengan adanya pos pos penjagaan dibawah yang menghitung keluar masuknya sampah. (#inidia sampah, ini yang menjadi perioritas sih, apa salahnya menghargai alam ? ). Dilarang keras membawa sabun, HINGGA HARUS MEMAKAI sepatu, kemarin saya direpotkan dengan materai untuk surat pernyataan kehilangan asuransi dikarenakan ada anggota team saya yang menggunakan sandal gunung (omg, ini sandal gunung lho). Tapi ya, setelah saya mensetujui persyaratan, ya akhirnya saya diperkenankan naik, mending saya sarankan untuk para calon pendaki di gunung gede selalu membawa materai untuk ketua regunya, dan sepatu. Hehehe.
Namun, saya baru mengetahui fungsi peraturan barusan, kenapa harus pakai sepatu, dikarenakan sudah direnofasinya jalan menuju puncak kemilau cahaya, sehingga dijalan dipenuhi batuan besar yang ujungnya runcing, Bukan masalah besar memang untuk para adventure, namun, bagaimana dengan ANAK Selfi itu tadi? Yup, memang harus dipertimbangkan juga, sukur sukur, kita mematuhi saja.
Bukan itu saja, saya sangat mengalami sendiri, keuntungan menggunakan sepatu, entah ini efek ladang gandum yang dibanjiri cokelat atau bukan, saya disini merasa beruntung menggunakan sepatu, anda tau kandang BADAK bukan? Dipertengahan perjalanan menuju puncak, yang biasanya digunakan para pendaki untuk mendirikan tenda, yup. Disini saya mengalami tragedi mengenaskan.

“Saya Menginjak Kotoran Manusia BANGSAT”.

Saya membayangkan jika saya tidak menggunakan sepatu gunung, mungkin saya akan mati kedinginan seketika, jangan mengira saya menginjak kotoran ini di semak belukar ketika saya mau buang air besar juga, tidak, justru saya menginjak di tanah lapang yang dikerumuni tenda di Kandang BADAK saat mau melintas naik. Sejenak Saya membayangkan bagaimana orang yang membuang kotoran itu tadi, mungkin dia membuka sedikit tendanya, mengeluarkan pantat mungilnya sedikit demi sambil membuang hajat terpendamnya. Apakah seperti itu cara petualang membuang hajat ? So, “Apa yang kita lakukan ketika buang air besar ” itu juga yang harus kita ajarkan pada team member lain, untuk menggali sedikit tanah, dan timbun itu kotoran didalam tanah yang sudah digali tadi, jangan lah malu untuk berbagi, saya juga tidak bisa menahan beser ditiap gunung yang didaki. Namun, kita juga harus menghargai pengunjung  lain. Kali ini saya tidak perlu menampilkan foto ya.
Bagi yang pernah #berak di kandang badak, silakan minta maaf dibawah.

Cukup sudah curhatan saya, mengenai gunung gede kemarin.
So, saran buat para calon pendaki lain yang ingin menaiki gunung gede :
1. Bawa Materai, disana harganya mahal.
2. Pakai Sepatu.
3. JAGA KEBERSIHAN, BAWA TURUN SAMPAHMU.
4. JAGA HAJAT MU, Malu sama kucing, meong meong meong.
5. Mau naik lewat jalur manapun, asal legal, harus ke CIBODAS untuk mengurus SIMAKSI.
5. Sisanya tau sendirilah, boleh browsing ditempat lain.
Salam #diaz

Aturan Etika Mendaki Gunung Gede

One thought on “Aturan Etika Mendaki Gunung Gede

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s